Pharmacy Talk : Mengapa Kebanyakan Penelitian Menggunakan Tikus?

Kamu takut dengan tikus? ada baiknya kamu berterimakasih dengan adanya mereka.

Picture from gettyimages.com

Penelitian pada bidang kesehatan, terutama untuk mengetahui sistem anatomi makhluk hidup,dilakukan pada hewan mamalia (kebanyakan adalah tikus) yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Tepatnya oleh William Harvey pada abad ke-16, seorang dokter dan peneliti dibidang anatomi untuk mengetahui sirkulasi darah dalam tubuh. Selanjutnya, peneliti mulai menggunakan tikus untuk meneliti tidak hanya dalam bidang anatomi saja, Dalam pembuktian Hukum Mendel (oleh Gregor Mendel) yang dilakukan oleh Lucien Cienot pada tahun 1902 contohnya.

Dibidang farmakologi, untuk menentukan mekanisme, efek, toksisitas (apakah obat menghasilkan efek yang tidak diinginkan pada tubuh), uji karsinogenik (uji untuk menentukan apakah obat dapat menyebabkan kanker pada sel tubuh), uji teratogenik (uji untuk menentukan apakah obat dapat menimbulkan kecacatan janin pada kandungan),ataupun uji mutagenik (apakah obat dapat menyebabkan mutasi), yang pertama harus dilakukan adalah menguji setiap zat atau bahan obat pada hewan coba. Uji ini disebut uji preklinik dan mutlak harus dilakukan dalam penelitian obat baru.

Hewan coba yang biasa digunakan antara lain adalah tikus, mencit, marmot, kelinci, kucing, anjing, dan kera. Hewan coba ini disesuaikan dengan kebutuhan, kriteria obat, serta tujuan pengujian. Tetapi, tikus dan mencit adalah hewan yang paling sering digunakan.
Mengapa menggunakan hewan coba?

Uji menggunakan hewan coba berguna untuk melihat adanya reaksi biokimia, fisiologis dan patologis pada manusia terhadap suatu sediaan uji. Perlu digarisbawahi, tidak ada satu spesies hewan pun yang sama dengan manusia, baik secara biokimiawi maupun faal. Namun, penggunaan hewan merupakan PENDEKATAN sebelum melakukan uji pada manusia, karena hasil yang diperoleh dapat menjadi PREDIKTOR terhadap nasib obat pada tubuh manusia. Bayangkan apabila uji dilakukan langsung kepada manusia terlebih dahulu. Kemungkinan besar yang terjadi adalah chaos dan kegagalan penelitian yang pastinya sangat tidak manusiawi.
Mengapa tikus?

Tikus dan mencit lebih sering digunakan, terutama tikus galur wistar karena pemeliharaannya yang mudah, jumlahnya banyak serta dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan kelinci, kucing ataupun kera.
Tikus jantan atau betina yang digunakan pada penelitian?

Kesesuaian jenis kelamin tergantung pada tujuan penelitian. Apabila dibutuhkan penelitian pada obat-obatan hormon untuk wanita, maka digunakan betina. Tapi ketika peneliti menginginkan penelitian yang tidak terganggu oleh adanya pengaruh hormon, maka seharusnya menggunakan jantan.

Hewan harus dalam keadaan sehat saat akan dilakukan penelitian, baru dapat diberi perlakuan sesuai dengan tujuan penelitian. Terkadang, tikus sengaja dibuat sakit atau patogenik dengan tujuan tertentu. Misal, tikus sengaja dibuat diabetes, mengalami hipertensi, hiperkolesterolemia, gagal ginjal, atau mengalami kerusakan tulang. Memang hal tersebut akan membuat si tikus merasa tersiksa, tapi hal tersebut dilakukan untuk mengetahui efek obat secara langsung.

Yang harus diingat, penelitian menggunakan makhluk hidup berbeda dengan penelitian biasa. Hewan coba membutuhkan penanganan khusus, perlakuan yang baik dan sesuai. Pembunuhan hewan (untuk mengambil organ atau kepentingan lainnya) harus dilakukan sedemikian rupa sehingga hewan coba mengalami penderitaan seminimal mungkin.
Apapun obat-obatan yang dari kamu lahir hingga sekarang digunakan, merupakan hasil dari penelitian berpuluh-puluh tahun ratusan peneliti dengan menggunakan mungkin hingga jutaan hewan coba.
Jadi selain harus berterimakasih kepada para peneliti,
Hewan coba juga harus diapresiasi jasa-jasanya pada ilmu pengetahuan khususnya dibidang pengobatan dan kesehatan! πŸ™‚


Lullman et al., 2000. Color Atlas Of Pharmacology. New York : Thieme Stuttgart.

Hakim, Lukman. 2002. Farmakokinetik. Yogyakarta : Bursa Ilmu.

Comments

  1. momo taro says:

    πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† sebelum masuk lab. salim dulu ama mencit… kata temenku yg “bakul obat”.

    Kalau aku takut tikus… takutπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

    1. Ada temennya mba momo yg bakul obat? Sama dong πŸ˜„
      Kalo langsung salim nanti digigit mba,di sayang2 dulu aja hehe

  2. Nur Irawan says:

    biarpun sering dibuat uji coba.. populasi tikus tetap tidak berkurang..
    malah makin banyak dan semakin besar-besar ukurannya
    kucing aja sekarang udah gak berani makan tikus, wkwkwkw

    1. mfadel says:

      Nah ini. Tikus got pasti kan mas. Sama di tempat saya juga begitu. Saya berspekulasi, tikus itu ada main mata dengan kucing sehingga tidak diganggu kucing. Mungkin mereka berpacaran (atau backstreet) atau mungkin tikus2 itu menggunakan suap (misal dengan tongkol) kepada kucing. Yang jelas tikus got dan kucing dewasa ini hidup damai

      1. Nur Irawan says:

        hahaha.. kayak tom and jerry yang memutuskan berkawan yak…

        1. Hehe kalau tikus lab juga mana berani kucing mau makan… Besar2 mas kalau tikus lab mah. Yang di foto itu namanya mencit, beda dengan tikus. Paling besar ada yg sepanjang lengan. 11 12 sama tikus got,bedanya lebih terurus dan dari jenis yg tidak begitu galak. Yah walaupun kenyataannya sudah banyak menggigit tangan2 pemiliknya alias lumayan ganas kalau belum disayang sih…. Jadi intinya harus dibelai dulu πŸ˜…πŸ˜Š

  3. Bang Ical says:

    Syukurlah tikus tidak mempublikasikan “Etika Ketikusan”, yang menentang pemanfaatan suatu ras makhluk demi kemaslahatan ras makhluk tertentu πŸ˜ƒ

    1. mfadel says:

      Nah ini. Plot twist yang saya sukai. Seandainya mereka melakukan itu, jagat perbinatangan akan memanas. Kucing, anjing, dan kelinci bisa jadi tak akan tinggal diam dan ikut melakukan hal yang sama

      1. Bang Ical says:

        Setelah bencana terjadi, baru manusia menyesal: mereka luput menyadari bahwa semua makhluk setara di hadapan Tuhan.

        πŸ˜‰

        1. mfadel says:

          Khas ending ala-ala Doraemon yak. Kalau dijadikan seri mungkin seru πŸ˜‚

          1. Aku malah ngebayanginnya kayak cerita di buku2 goosebumps jaman kecil dulu. Penelitinya dihantui zombie tikus mutan. Eh. Naudzubillah. Saya juga tiap hari ketemu tikus ini, jangan sampai begitu dong πŸ˜‚

          2. mfadel says:

            Apa ada perasaan geli pada awalnya mba? 😁
            Tikus yang sampai sepanjang lengan itu luar biasa ukurannya wkwk. Saya ngeliatnya aja ogah. Entah harus bagaimana saya jika dikenai kewajiban ‘main’ sama tikus begitu

          3. Saya sampe sekarang pun geli geli gimana gitu. Kami (aku dan tikus) masih dalam tahap PDKT. Entahlah kapan akan jadi soulmate πŸ˜‚

          4. mfadel says:

            Wkwkwk.. Semoga cepetan jadian ka πŸ˜‚

  4. mfadel says:

    Bagus sekali tulisan ini. Mulai dari judul sampai sumber. Ada rasa iba saat tikus2 itu harus didiabeteskan. Namun ini untuk perkembangan dunia medis, yang artinya untuk kelangsungan hidup manusia juga.

    Apakah ada ketentuan mba tikus yang bagaimana yang dapat dijadikan bahan percobaan? Misal hanya dapat tikus putih atau spesies tertentu

    1. Waaah terimakasih mas fadel, semoga bermanfaat dan memperluas ilmu nya yaaa 😊
      Pasti kasihan, tapi semua di hidup ini memang ada risk and benefitnya sih. Jadi ya demi ilmu pengetahuan dan pengobatan, mau tidak mau harus ada yg dikorbankan. Dan jangan sampai manusia terlebih dahulu. Adaa, jenis2nya juga sudah ditentukan, kebanyakan menggunakan tikus putih,galur biasanya antara sprague dawley atau wistar. Tapi kampus2 sih biasanya pakai tikus jenis wistar. Sudah dikembangbiakkan juga di Ind dan bisa dibeli resmi di BPOM atau IPB,tapi harus punya surat legal yg menunjukkan tujuan pemakaian itu untuk penelitian.

      1. mfadel says:

        Wah.. Ini juga baru saya tahu. Masyarakat awam ternyata punya akses untuk mendapatkan tikus ini. Nama2 jenis tikus putih itu terdengar sangat asing πŸ˜…

  5. Ngga tega sama tikusnya :”)

    1. Sabar yaw *pukpuk toro*

  6. kalau kelinci percobaan,,,,????

  7. Ria RD says:

    Maaf mau tanya, tikus kan ktanya biasanya jadi hewan coba. Nah obatnya itu buat apa aja? Klo skincare masa’ tikus juga yg jdi hewan cobanya kak?

    1. Saya mencoba menjawab ya,tikus digunakan biasanya untuk obat yang tujuannya masuk ke peredaran darah,dengan tujuan kuratif, itu dinamakan uji preklinik. Namun pada akhirnya,obat itu juga harus diuji ke manusia,untuk mengetahui kompatibilitasnya dengan manusia,dinamakan uji klinik. Kalau untuk skin care, biasanya langsung ke manusia. Tapi harus ada persetujuan dari komisi etik universitas yg bersangkutan dan setau saya butuh penanganan dokter bila terjadi sesuatu. Dan kalau skin care,misal pemutih,biasanya diuji cobakan tidak langsung ke kulit muka,namun ke lengan tangan bagian dalam. Saya mencoba menjawab dari pengalaman teman saya yg pernah uji coba krim pemutih untuk tesis beliau ya, tapi silahkan anda bisa mencari referensi jurnal tersendiri.

  8. Yuhuu.. mantab penjelasannya, singkat padat dan komprehensif serta memuat keterangan penunjang yang informatif, tapi tikus mencit tuh yang seperti pada gambar ya? Kali aja lain waktu muncul artikel nih macam macam tikus

    1. deantari says:

      Yang digambar tikus sprague dawley mas, okeh kapan2 dibahas yah..btw, ajarin cara naikin followers dong,aku mulai dari 0 lagi ini hahaha syedih

Leave a Reply to deantari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *