PERTAMA

Akhirnya setelah seribu purnama, saya muncul juga di blog yang sudah dihinggapi banyak sarang laba-laba ini. Setelah sekian lama mengusahakan dengan banjir keringat dan air mata untuk lulus 3 semester dari magister UI (dan Alhamdulillah… resolusi tersebut terpenuhi) It’s good to be back here! 

Banyak yang menanyakan perihal dimana saya akan bekerja setelah ini. Salah satu dosen saya menawarkan pekerjaan sebagai dosen disuatu perguruan tinggi swasta, yang disayangkan tempatnya sangat jauh dari tempat saya tinggal, harus melewati gunung, lembah, dan bukit ibukota. Ampun deh, berdiri 5 menit aja sekarang saya udah sempoyongan. Dan saya mengurungkan semua keinginan bekerja saya karena 1 hal :

“There is a bun in the oven!”

Yup, saya hamil!

Senang? Jelas! tapi ada 1 perasaan yang terbersit dari hati, yaitu bingung. Sebagai anak baru kemaren, umur saya yang 26 cuma kamuflase, tingkah laku saya masih terasa seperti anak 16 tahun. Suka main game the sims berjam-jam, nonton acara komedi, kartun, ataupun makan sembarangan. Dan terlebih lagi, saya kurang menyukai anak kecil dan mungkin sifat keibuan saya kurang dari 0,1%. Namun masih ada harapan, kan?

Kehamilan pertama ini saya ketahui 2 minggu sebelum menjalani sidang tesis. Karena saya pikir saya itu wonder woman, jadilah saya mondar-mandir kampus mengurus ini-itu demi sidang. Tingkat kelelahan dan stress saya sudah sampai pada kasta brahmana. Saya pikir “halah cuma gini doang, pasti gakpapa”. Dan sampailah H-1 sidang,dipagi hari saya merasa ingin buang air kecil. Pada saat itu lah saya mengetahui ada yang kurang beres. Ada flek darah yang keluar dipagi hari saat suami sudah berangkat kerja. Saya menangis sejadi-jadinya, menelfon suami dan orangtua, dan langsung memesan taksi online untuk langsung pergi ke rumah sakit. Sampai disana, dengan gemetar saya mendaftar untuk dokter obgyn langganan. Setelahnya, saya menunggu di kursi antrian. Tigapuluh menit kemudian, suami akhirnya menyusul dari kantor. Matanya sudah berkaca-kaca, kami berpegangan tangan ketakutan tidak karuan. Pukul 09.30 akhirnya kami dipanggil untuk masuk ruangan dokter. Setelah menjelaskan kondisi saya, saya diminta untuk berbaring untuk melihat kondisi rahim melalui USG.

Jantung saya berdetak sangat kencang.

Saat dokter meletakkan alat USG diperut saya, tiba-tiba terdengar bunyi detak jantung kecil disana.

“glup glup… glup glup..”

Alhamdulillaaaah…. detak jantung pertama akhirnya terdengar. Ternyata bayi saya yang masih berukuran sangat mini ini sehat. Senyum mengembang di muka saya. Namun dokter berpesan kepada saya agar tidak kecapekan dan berdiri serta jalan terlalu lama. Oh ya, satu lagi. Yaitu untuk tidak stres. Bagaimana bisa dok, besok saya ujian :’D

Hari itu saya resmi belajar di kasur seharian. Dan besoknya, walaupun otak sudah terlalu nge-hang untuk ujian, alhamdulillah saya lulus. YEAAAYYYY…

Hari ini saya sudah memasuki minggu ke-9 kehamilan, yang mana merupakan trimester pertama dan sedang dipuncak-puncaknya mengalami morning sickness. Tapi yang anehnya, saya mual bukan dipagi hari, melainkan dari waktu sore ke malam. Mungkin karena saya orangnya nocturnal kali ya. Halah teori macam apa itu…

Btw, karena mual ini, pergerakan dan kekuatan saya terbatas. Saya juga merasa lemas sepanjang hari, sensitif terhadap bau-bau tertentu seperti nasi, bawang, bau amis, bau parfum (yes, it’s kinda sad) intinya semua bau menyengat didunia ini. Semacam anjing pelacak. Secara personal, dari kecil saya sangaaaat benci rasa mual. Maka dari itu saya menghindari bau parfum mobil yang menyengat, ataupun minum Antimo saat berkendara. Tapi kali ini beda. Setiap saat saya mual rasanya seperti naik mobil dengan getaran yang tidak enak dan bau yang menyengat. Rasanya seperti berkendara yang tidak ada ujungnya. Padahal saya diatas kasur terus. Minum antimo is a big no no untuk wanita hamil, jadi saya menggunakan obat ondansentron tablet, which is kinda didn’t works well for me… I guest? yah intinya saya masih merasa mual setelah minum obat itu.

Overall, saya merasa sangaat bahagia dengan kehamilan ini, namun juga masih bingung dan kaget untuk menyiapkan batin, hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, dan sebagainya. Apakah teman-teman ada saran untuk meredam mual? Any suggestion for this clueless pregnant woman? :’D

 

Well, see ya!


IMG-20180728-WA0010

Comments

  1. praditalia says:

    Wah… Barokallah teh atas kehamilan dan kelulusannya. Brrt dedeknya klo lahir udah master ya hehe. Hm… Mual ya, saya juga kurang tau soalnya blm pernah hamil. Mungkin dibanyakin makan buah teh (sarannya mainstream yak). Semoga terus sshat ibu dan debaynya hingga lahir nanti. Aamiin

    1. Terimakasih mbaaaa :))
      Huahahhaa baru lahir ntar udah jadi master yak.
      Iya bener sih, kayaknya aku kurang makan yg seger2, hehehe.
      Amiiiin… makasih mba, sehat2 juga yaaa

  2. Mabrouk,,,👏🏻
    Buat resolusinya yang tercapai, buat dede bayinya juga. Moga lancar sampai persalinan nanti. Aamiin

    1. Aamiiiiin…terimakasih mas naufal!

  3. Diptra says:

    First thing first selamat atas kehamilannya. Udah tau dari IG sebenarnya 😁. Tapi karena kita anak WordPress maka saya ngucapinnya di sini. Tenang aja, beberapa bulan paska lahiran, kelakuan 16 tahun akan menukik tajam menjadi 36, bahkan 46 awawaw. Karena saya belom pernah hamil dan enggak tau gimana itu pun mualnya hamil jadi tak tau dengan persis cara mengatasinya. Paling banter yaa saya kasih saran generik, meditasi menyadari nafas dan menerima rasa mual yang sekonyong-konyong hadir. 😁

    1. SUHUUU!! *hormat*
      Terimakasih master atas ucapannya *menunduk*
      Aku mah anak wordpress abal2, nulis aja gak bisa, jarang2 pula..
      Wadidaaaw..46 banget itu lah :((
      Berarti intinya kalo mual suruh ikhlas aja lah ya…

      1. Diptra says:

        Iyaa kalo mualnya dilawan bisa-bisa tambah menjadi-jadi. Well not as easy as what it said 😁. Anyway itu kelakuan nak kanak 16 tahun maen game apa, kok bisa bikin mual?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *