Kembali Jadi Anak-Anak : Doodling

16-09-18-21-51-47-913_deco
Alexa mencoba menggambar dengan gaya senam lantai

Biasanya, anak dengan rentang umur 4-6 tahun yang sedang menjalani pendidikan PAUD ataupun TK, sedang gemar-gemarnya menggambar. Saya tahu betul karena keponakan pertama saya, Sasya sedang aktif-aktifnya mencoret-coreti buku-buku saya dengan gambarnya. Setiap pergi ke toko buku, ia selalu minta untuk dibelikan buku menggambar, buku mewarnai, termasuk pensil warnanya. Gambar yang ia buat beragam mulai dari rumah, opa-oma, kakek-nenek, papi-mami nya, tante-tantenya, adiknya, termasuk lambang Ghostbuster setelah menonton film tersebut. Imajinasi nya yang banyak sebagai  anak-anak, dan kebahagiaannya saat menulis serta menggambar yang kadang membuat saya berpikir, kapan saya sebahagia itu ketika menulis atau menggambar sesuatu.

Fakta yang kesekian : saya tidak pernah “mencicipi” masa Taman Kanak-Kanak atau yang biasa disebut dengan TK. Gak percaya? tanya deh sama ibu saya. Saya belajar menulis dan berhitung secara otodidak dirumah oleh Ibu, dan selanjutnya Ibu memberanikan diri untuk mendaftarkan saya langsung ke Sekolah Dasar. Dan ajaibnya tanpa ijazah TK, saya pun diterima! Tapi mungkin ada bedanya saya dengan anak-anak kelas 1 SD waktu itu. Saya yang belajar menulis, membaca dan berhitung dirumah, bukan oleh guru sambil bernyanyi ataupun ber haha-hihi dengan teman sebaya, membuat saya jadi cenderung pendiam dan perfeksionis. Tapi saya suka sekali menggambar. Entah gambar saya bagus atau tidak, saya tidak peduli. Apapun yang ada dihadapan saya, pemandangan, siaran reporter tv, akan saya tuangkan di buku gambar. Jangan bayangkan gambar saya bagus. Tidak, ini bukan soal bagus atau tidak. Ini soal kebahagiaan.

Saya ingat ketika pelajaran menggambar dikelas. Saat itu saya kelas 1 SD. Ketika yang lain menggambar gunung-sawah-dan-jalan raya ala anak-anak, saya tidak mau menggambar se-mainstream itu. Jadilah saya mulai berpikir. Apa yang akan saya gambar yang akan menarik perhatian bu guru? Saya memutuskan untuk membuat gambar sekolah. lengkap dengan lapangan dan tiang benderanya. Namun naas. ketika saya dengan sangaaat teliti membuat gambar tersebut, bel berbunyi. Kelas sudah selesai! Sedangkan gambar masih belum terselesaikan. Teman-teman mulai beranjak sambil membawa hasil pekerjaannya kedepan. Akhirnya tumpah ruah sudah, saya menangis sejadi-jadinya dibangku kelas. Itu pertama kalinya saya merasa gagal. Dan pertama kalinya juga saya menyadari bahwa menggambar, tidak se-menyenangkan yang saya kira.

Semakin dewasa, saya hanya menggambar pada saat-saat tertentu saja. Ketika saya sedang jatuh cinta contohnya. Eits jangan salah, jatuh cinta kepada Bapak Ibu maksudnya. Atau saat saya tidak tahan dengan kegemasan keponakan-keponakan yang lucu-lucu.

idea-note_20141220_131719_011

img_20150711_080520

note_20150708_073454_012

(All of my digital drawing was made using Samsung Note)

Bukan, ini bukan pakai aplikasi ubah foto jadi gambar. Ini murni gambar saya. Makanya gambar Alexa (keponakan) saat kecil, terlihat seperti Tong Sam Cong cilik. Harap maklum saudara-saudara…

img_20141112_203621

Pencil on a paper sketch for Father’s Day 2014

Tapi ada yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini. Dengan tren yang disebut doodle. Oke, kalau belum tau arti dari doodle, kita baca dulu penjelasannya dari Akang Wikipedia :

A doodle is a drawing made while a person’s attention is otherwise occupied. Doodles are simple drawings that can have concrete representational meaning or may just be composed of random and abstract lines, generally without ever lifting the drawing device off of the paper, in which case it is usually called a “scribble”.

Jadi, tanpa sadar kita sering membuat doodle berupa coretan atau kalau saya menyebutnya “oret-oretan” misal dibelakang buku, saat kita jenuh atau suntuk. Tapi tren doodle juga merambat ke para designer-designer atau seniman untuk membuat doodle mereka semenarik mungkin. Di instagram terdapat berbagai seniman doodles dengan karyanya yang lucu-lucu.

cbe79b717968b6a4efb70bc517b3079a

Chibird.com

screenshot_2016-08-30-09-04-51-1

Instagram @introvertdoodles

I notice something on this kind of doodle. There are a lot of happy things! Seperti saat anak-anak, saya kembali menggambar sesuatu yang saya cintai. Sangat jauh dari sempurna ataupun pikiran muluk-muluk tentang hasil akhir. Bahkan jika dibandingkan dengan seniman-seniman doodle diatas. Ini bukan soal mengejar deadline atau hal yang semestinya kamu lakukan untuk menjadi “wajar”. Bukan pula karena mengejar hasil gambar yang sempurna. Tapi karena saya mencintai apapun yang saya gambar dan proses pembuatannya.

idea-note_20160917_232215_01
Random doodle I made after work today. And yes, I work on weekend.

Ayo kembali jadi anak-anak! 🙂

Comments

  1. Aku dulu malah benci kl ada pelajaran menggambar atau nulis latin. Karena merasa selalu gagal dalam dua hal tersebut… jadi ketika SMP pelajaran menggambar udah gak ada, rasanya kayak merdeka 😀

    1. Kebalikan banget mas Slamet. SMP aku masih seneng karena pelajaran seni nya jadi macem2 kayak bikin tanah liat, main alat musik, dll. Pas SMA pelajaran seni nya tari jawa sama modern dance pake lagu jedag jedug, aku dapet nilai 5 huehehe..

      1. Kl jaman SMA, sekolahku cuma bisa milih satu jenis kesenian sesuai minat siswa. Misalnya yang suka theater belejar theater terus sampe lulus, yang seneng gitar belajar gitar terus gitu…

        1. Enak banget itu mah! 😀

  2. Rissaid says:

    Ibunya mba Dee luarbiasa, jd sekolah dirumah. Salut 🙂

    Aaak, mbaak, how did u do that? Samsung note? Aku pake samsung note 10.1 ga bisa, beda ya kalau bakat gini 😂😂😂

    1. Iya emang luar biasa,padahal itu ibu sendirian karena bapak kerja bukan di Purwokerto.hehe

      Enak itu mba Rissa,gede layarnya. Aku malah note 8inch mbaaa, lebih kecil dari punya mbak, sempit kalo buat ngegambar,rada susah apalagi kalo disudut 😅

      1. Rissaid says:

        Berarti mek berdua dirumah mba? Aak ibunya kece deh.
        kalau itu apalagi, nyerah kibar benderan aku mbak wkwk 😂😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *