Menjadi Diri Sendiri

(First of all, pada artikel ini saya meng upload beberapa foto sebelum saya menggunakan jilbab. Tujuan saya adalah untuk memberi gambaran perspektif diri saya di masa lampau. If you feel uncomfortable, just leave this page)

Menemukan jati diri, merupakan sesuatu yang tidak gampang. Seseorang perlu berkali-kali mencoba berbagai versi dirinya sendiri untuk suatu saat yakin akan pilihan yang diambilnya. How would I know about this kind of things? It’s because I learned hard way to achieve it. Ketika kita ingin menjadi diri sendiri, terkadang kita terhalang oleh suatu stigma masyarakat, tentang apa yang lazim atau tidak, apa yang wajar dan dapat diterima oleh masyarakat. Stereotype, stigma, dan pandangan masyarakat lah yang ikut menjadi andil setiap perubahan jati diri seseorang.

Dari awal, saya mengetahui bahwa saya adalah seorang penyendiri. I’ve been socially awkward since I was a kid. Menjadi orang yang introvert, agak menyulitkan saya bergaul sejak SD hingga SMA. Saya tidak mempunyai banyak teman, dan saya pun tidak tau cara bergaul. Berbicara didepan umum? membayangkannya saja sudah membuat saya pusing dan mual. Rasanya ingin selamanya berada dibelakang panggung saja. Dan sampailah saya ke tingkat perguruan tinggi. Namun kali ini berbeda, teman-teman dekat saya, yang saya kenal sejak ospek, 3 perempuan cantik ini termasuk mahasiswa baru yang terkenal dikampus. Mereka periang, menyenangkan, extrovert dan lovable. The type of person you wanna know. Dan kebalikannya adalah saya, yang canggung, awkward dan lebih sering menutup mulut rapat-rapat tidak berani berpendapat.

Ketika mereka lebih sering memakai warna terang seperti pink, kuning, dan ungu, saya lebih sering memakai hitam dan coklat. Tapi atas berbagai dorongan, akhirnya saya berusaha mengikuti, tried to blend with them. Tapi apakah saya menjadi sama “bersinar”nya dengan mereka? tidak juga. Kepribadian mereka lah yang membuat mereka menonjol. Mereka berani mengutarakan pendapat, aktif bersosialisasi di organisasi, dan bergaul dengan sangat baik.

IMG_0785

(Bagaimana pendapatmu tentang foto diatas? terlihat saya mempunyai banyak teman? Well, anggapanmu salah. Pada saat itu bahkan saya merasa canggung ketika harus berbicara kepada lawan jenis)

Namun lama kelamaan, saya akhirnya sedikit “kecipretan” ilmu dari wanita-wanita hebat ini. Seiring berjalannya waktu, perlahan saya belajar bagaimana bergaul dengan orang lain. Bagaimana caranya saya berteman dengan laki-laki maupun perempuan, berbicara didepan forum maupun organisasi. Walaupun tidak sebaik mereka, nyatanya skill bersosialisasi saya sudah jauh lebih baik daripada yang dulu. Tapi jangan salah, ke-introvert-an saya tidak akan berubah. Saya memang lebih suka sendirian daripada berada pada kerumunan banyak orang.

Kalau yang diatas adalah masalah kepribadian. Bagaimana dengan penampilan? kalau yang satu ini berbeda. Menjadi seorang wanita muda pada saat itu, membuat saya berusaha ingin tampil secantik mungkin yang saya bisa. Walaupun saya tau betul saya berada pada level “standar”. Muka?standar. Badan? standar. Dari semua media baik televisi maupun majalah, semuanya mempunyai satu anggapan yang sama. Bahwa cantik adalah wanita dengan tubuh ideal, berparas menawan serta berambut panjang. Dan pada saat itu, saya ingin menjadi cantik sesuai dengan persepsi media. Rambut saya yang panjang dan lebat, sudah terkontaminasi berbagai zat pewarna, dan panas dari hairdryer dan alat catok. Walau jauh dalam hati saya merasa lebih nyaman menggunakan warna hitam, saat itu saya mulai menggunakan pakaian berwarna terang dan mengikuti tren yang ada.

1417883062706

hair

(Apa yang kamu pikirkan saat melihat foto diatas? kalau saya suka warna pink? Lagi-lagi anggapanmu salah. Dan rambut asli saya adalah lurus. Rambut pada foto diatas merupakan hasil dari “ritual” berjam-jam yang saya lakukan setiap harinya)

Bertahun-tahun mempunyai persepsi yang demikian tentang arti cantik, menimbulkan sebuah titik jenuh. Sebuah titik dimana saya menyadari bahwa ini semua bukan diri saya. Saya tidak menjadi diri saya sendiri ketika berpenampilan seperti ini. And I feel way more uncomfortable than before. Perlahan-lahan saya mulai membenahi persepsi serta menanggalkan berbagai “aksesori” yang selama ini menjadi andalan saya untuk tampil setiap harinya. Saya memutuskan untuk menutup rambut yang selama ini saya bangga-banggakan. Ya, saya mulai menggunakan jilbab. Yang awalnya merasa harus sempurna fisik, kali ini saya belajar bagaimana caranya untuk lebih menyempurnakan hati dan juga iman. Buat apa cantik di cangkang tapi mempunyai kepribadian serta persepsi yang dangkal? Walaupun kini saya masih sangat jauh dari sempurna, nyatanya hati ini jauh lebih tentram dari yang dulu. Persepsi saya kini, semua wanita itu cantik. Tapi yang lebih cantik lagi jika seorang wanita mempunyai pribadi yang menyenangkan dan berwawasan luas.

Untukmu teman yang sedang mencari jati diri, jangan risau. Karena pada dasarnya semua manusia mempunyai sifat dasar yang dinamis. Saya dan kamu, masih harus banyak belajar tentang kehidupan untuk bertahan hidup sehidup-hidupnya. Karena jika kita stuck dan tidak berkembang, kita tidak akan bisa naik kelas. Memantaskan diri menjadi yang terbaik. Baik hubungannya dengan manusia lain, maupun kepada Sang Pencipta. Teruslah menggali apa yang kamu inginkan. Apa yang kamu inginkan tentang dirimu sendiri. Baik fisik, jiwa, maupun akhlak. Bercermin dan terus mengevaluasi diri menjadi salah satu hal penting. Bagaimana kita bisa tau diri kita sendiri bila selama ini yang kita lakukan hanya mengkritik orang lain?

Carilah berbagai bentuk dirimu sendiri. Salah adalah hal yang biasa. That way, someday you will find the perfect form of yourself.

Sepenuh cinta,

 

Deantari

(A.K.A the nerd girl who spent saturday night alone laying on bed playing ukulele)

 

 

Comments

  1. Can’t agree more! tapi, kalimat setelah nama itu… kok saya mencium ada bau2 mengenaskan disana hehe #nooffense 😛

    1. bau bau membusuk dan mengenaskan ya mas 😀
      A.K.A. nya sebenernya mau banyak. cuma kok jatohnya malah tulisan saya jadi kasian bgt hehehe
      AKA the girl who spent her day off on her bed doing nothing
      AKA the awkward girl you’ll find at someone’s party,sit at the corner can’t wait to go home
      AKA the “ssssst” girl you’ll find at public library

      1. udah-udah jangan diteruskan hehe, yang penting mbak bahagia kan jadi diri sendiri skrng? 😀

        1. hahaha ya biasa aja sih mas. lebih bikin adem hati sih iya. who knows kedepannya saya bakal berubah “bentuk” lagi,semoga selalu kearah yg lebih baik 🙂

  2. Mortyfox says:

    Ngga mau lihat sebelum berjilbab 🙁 🙈

    Benar mba, tulisan ini bisa mewakili gambaran saya dan teman2 di usia 20-25 yang sedang “asyik-asyiknya” mencari jati diri. Alhamdulillah kalau mba sudah menemukannya, Istiqomah selalu yaa!

    Tiap orang pasti ada sisi uniknya sendiri mba Dea he he.
    Kalau mba gadis yang berukulele, saya pendiam di dunia nyata yg sangat bawel di tulisan ☺
    *BTW kok saya geli, dibagian ritual tiap hari supaya rambutnya begitu, begitu berat ya perjuangan perempuan 🙁

    1. sekarang sih udah ga begitu pendiem kok,kalau ketemu orang ya berusaha ngobrol cari topik. Tapi kekurangannya ya itu,energi nya berasa habis kalo udah ketemu org byk. di charge nya ya pake “me time” alias alone doing nothing hehehehe
      duh mas toro,itu rambut setiap hari fabulous gitu perjuangan duduk didepan kaca nya bisa sampe 2-3 jam loh :’)

  3. elfarqy says:

    Wah pasti sebenarnya ada perjalanan sangat panjang, dan ini cuma rangkuman yang bisa “ditampakkan”. Karena kadang mencari jati diri kan ga mudah 😀

    1. waduh mas,kalo diceritain yg sebenernya,satu buku skripsi juga ga kelar-kelar mas,hehe

  4. […] Menjadi diri sendiri (1) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *