Things I’ve Learned From : Social Media

social-media-apps

Pada era digital seperti sekarang, hampir semua orang mempunyai sosial media; entah itu Facebook, instagram, path, ataupun twitter. Atau bahkan blog. Di semua sosial media tersebut, orang beramai-ramai meng-upload foto, membangun image dan presentasi yang terbaik dari dirinya sendiri. Dari mulai meng-upload foto keluarga, anak-anak yang lucu, rumah yang indah, barang-barang mewah, pakaian, prestasi, serta kebahagiaan yang seakan tak pernah usai dari sebuah senyuman yang dibingkai manis dalam sebuah foto persegi berukuran sebesar layar handphone yang kamu miliki.

Tak luput kamu pun melihat foto-foto yang mereka miliki. Awalnya hanya ingin tahu, apa saja sih yang ada di kehidupan mereka. Apa saja yang sudah berubah. Terlihat hampir di semua foto tersebut adalah foto seseorang tersenyum. Senyum itu sangat indah, seakan tidak pernah ada kesedihan dalam kehidupannya. Mereka terlihat sangat bahagia dengan kehidupannya yang terlihat sempurna, harta yang kelihatannya melimpah, serta pengalaman mereka keliling dunia. Mulai dari menara Eiffel di Paris hingga Time Square di New York sudah mereka singgahi. Sederet prestasi, dari nasional hingga internasional sudah mereka raih. Kemudian kamu bertanya pada dirimu sendiri,

“What have I done with my life? Am I the only one who stuck?”

Kalau kata orang sunda “Da aku mah apa atuh?”

Pertanyaan tersebut menimbulkan pertanyaan dalam dirimu sendiri. That you’re not good enough. Kalau selama ini dirimu kurang bahagia. Well the truth is, semua yang kamu lihat itu hanyalah foto dan sederet kata-kata. Dan foto bukanlah bukti bahwa kebahagiaan serta kesempurnaan yang mereka hadirkan itu dapat dipercaya.

Kalau kamu melihat foto temanmu sedang tersenyum, itu karena mereka harus menghadirkan bahagia pada momen yang mereka tangkap pada sebuah kamera. Walaupun yang terjadi adalah sebaliknya. Mungkin mereka sedang lelah, marah, sedih, ataupun tertekan. Tidak ada yang tahu, kecuali diri mereka sendiri. Kalau kamu melihat mereka terlihat cantik atau tampan, bukan tidak mungkin mereka menggunakan aplikasi untuk membuat diri sendiri terlihat lebih menarik. Dan kalau mereka menunjukkan foto tentang barang-barang mewah yang mereka miliki, jangan iri hati. Belum tentu yang tertangkap di foto adalah sesuai dengan kenyataan. Serta ingat, setiap orang mempunyai perspektif tersendiri tentang arti dari kesempurnaan.

Ada sebuah kutipan tulisan dari Alm. Prof. Buya Hamka, pada bukunya yang berjudul Tashawuf Modern (1939) yang sangat saya sukai :

Tiga orang berkawan berjalan di sebuah kampung ramai, dimana berdiri rumah-rumah yang indah. Tempat tinggal orang kaya, tuan-tuan dan orang-orang bergaji besar. Ketika itu hari telah petang, matahari telah condong ke Barat, cahaya syafak merah dari barat bergelut dengan cahaya listrik yang mulai menerangi jalan raya. Di antara pergelutan siang dan malam itu, beberapa orang duduk di muka pekarangan rumahnya bersama anak dan istrinya, selepas pulang dari pekerjaan. Di atas meja terletak beberapa mangkuk teh. Si ibu sedang menyulam, anak-anak sedang bermain kejar-kejaran di hamparan rumput halaman rumah yang hijau.

Alangkah bahagianya orang-orang yang tinggal disini, kata salah seorang dari ketiga orang bertamasya itu. Lihatlah keindahan rumahnya bertikam dengan keindahan pekarangannya, kecukupan perkakasnya bergelut dengan kepuasan hatinya. Di dekat rumah kelihatan garasi mobilnya, tentu mobil itu menurut model yang paling baru; gajinya tentu mencukupi untuk belanja dari bulan ke bulan, malah lebih dari cukup.

Seorang diantara ketiga yang bertamasya itu, demi mendengarkan perkataan kawannya itu, menjawab “Ah, jangan engkau terperdaya kulit lahir, karena dunia ini hanya komedi. Boleh jadi di balik keindahan perkakas, dibalik senyuman dan tertawa itu ada beberapa kepahitan yang mereka tanggungkan, yang tidak diketahui oleh banyak orang lain. Banyak orang yang tertawa, sedang hatinya luka parah. Banyak orang yang tertipu melihat cahaya panas di waktu terik di tanah lapang luas, disangkanya cahaya itu air. Demi bila dia sampai kesana hanya pasir belaka. Banyak sekali, keadaan yang rahmat di pandang lahir, tetapi pada batinnya laknat.”

Saya akui, tidak jarang saya menampilkan foto-foto dan berbagi kebahagiaan melalui media sosial yang saya miliki, layaknya orang-orang kebanyakan. Termasuk tulisan-tulisan yang saya tulis di blog ini. Tapi bukan berarti hidup saya sempurna dan terlampau bahagia, atau bahkan menggurui mengenai “makna hidup”. I’ve a lot to learn until I die. Just as you are. Dan jangan terlalu percaya senyuman dan kebaikan seseorang di sosial media. Belum tentu mereka sama seperti diri mereka sendiri di dunia nyata. As funny as it’s sounds, yes I warn you. Jangan mudah percaya dengan media sosial yang saya atau orang lain miliki. Apalagi terperdaya. Kecuali kamu sudah mengenal dengan baik orang-orang tersebut di dunia nyata. Siapa tahu, mungkin saya seorang serial killer? *seringai* Hahaha. Just kidding. But remember :

You are good enough.

Selalu ingat hal tersebut. Kamu cukup dan kamu bahagia. Berubahlah demi kebaikan dirimu sendiri, bukan demi apa yang ingin kamu tampilkan di sosial media. Kalau kamu merasa kamu tidak bahagia dengan selalu melihat orang lain, maka pencarianmu terhadap kebahagiaan itu tidak akan usai. dan kamu pasti akan selalu merasa dikecewakan oleh hidup terus menerus.

PS : This is a reminder for you, and for me as well 🙂


 

Sumber :

Tashawuf Modern (1939) ditulis oleh Alm. Prof. Dr. Buya Hamka. Diterbitkan ulang pada Maret 2015.

Gambar : disini

 

Comments

  1. Itsnahm says:

    Iya kak. Kebanyakan liat sosmed bikin hidup gak tenang. Haha. Akhirnya saya off dari semua itu. Capek ngikutin sosmed mulu haha

  2. […] Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya : Things I’ve Learned From : Social Media […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *