Boneka Barbie : Ekspektasi dan Realita (Body Image Issue)

barb

Boneka Barbie, yang pertama kali diproduksi oleh perusahaan Mattel di Amerika Serikat pada tahun 1959, menjadi boneka paling diminati masyarakat dunia hingga sekarang. Tak jarang orang merogoh kocek yang tidak murah untuk 1 boneka Barbie khusus kolektor. Harganya bisa berkisar hingga jutaan rupiah. Boneka dengan ciri fisik yang (sangat) sempurna ini, sering menimbulkan kontroversi akibat porsi tubuhnya yang dinilai tidak realistis dan dapat menimbulkan kesalahpahaman mengenai arti “cantik” yang sebenarnya. Karena Barbie dianggap sebagai role model oleh kebanyakan anak-anak, maka permasalahan ini semakin berkembang. Apalagi di era sekarang, dimana kebebasan berpendapat di berbagai media menjadi lebih terbuka. Tingginya angka kejadian anoreksia dan bulimia di berbagai belahan negara, diduga salah satunya merupakan akibat body image yang berusaha ditonjolkan oleh Barbie.

Sebenarnya, walaupun citra yang diberikan Barbie cukup kontroversial dan dianggap buruk, ada sisi positif yang berusaha ditunjukkan oleh pihak Mattel sendiri terkait dengan edukasi kepada anak-anak perempuan. Bahwa perempuan bisa menjadi apa saja yang mereka mau. Dokter? polisi? pilot? presiden? semua Barbie versi tersebut ada (tentunya dengan tubuh yang super jenjang dan wajah yang luar biasa cantik). Saya sendiri mengapresiasi pesan yang disampaikan Mattel ini. A girl can be anything that she wants.

Saat saya kecil, saya senang sekali ketika Bapak memberikan boneka Barbie untuk hadiah ulang tahun saya. Mainan ini tergolong mainan mahal dijamannya, maka dari itu saya hanya mendapatkannya pada hari ulang tahun saja. Boneka ini sempurna, dengan tubuh tinggi semampai, wajah yang sangat cantik, serta rambut pirang yang panjang. Saya yang saat itu masih Sekolah Dasar, berharap agar suatu saat nanti saya menjadi seperti boneka ini. Cantik. Kurus. Tinggi semampai. Seiring berjalannya waktu, saya terpaksa menyerah dengan keadaan. Tinggi badan saya sama seperti rata-rata perempuan Indonesia. Berat badan? aduh jangan ditanya deh. Apalagi dibanding-bandingin sama Barbie. Wajah? standar (oke, yang bilang saya cantik mungkin keluarga, pasien katarak dan orang bermata minus ekstra aja). Dengan ke-standar-an saya ini, mustahil rasanya kalau saya pengen mengejar kesempurnaan si Barbie. Capek.

Tapi tahukah kamu Barbie meluncurkan Barbie keluaran terbaru? koleksi Barbie yang baru muncul sekitar 2 hari yang lalu ini menggegerkan dunia dengan perspektifnya yang baru. Bahkan isu ini menjadi cover majalah Time US baru-baru ini.

cover barbie

Apa sih yang baru dari Barbie? yaitu karena Barbie meluncurkan Barbie baru dengan badan yang lebih realistis. Barbie ini hadir dengan badan curvy, petite, tall. Serta warna kulit, mata dan rambut yang lebih bervariasi. Seperti yang dikatakan oleh Evelyn Mazzocco, senior vice-president dan Barbie’s global general manager, bahwa ia ingin mengubah citra pada brand nya, serta mempresentasikan cantik yang beragam dari berbagai belahan dunia.

barbiee

Gebrakan yang cukup berani menurut saya, karena selama ini Barbie sudah terkenal dengan kesempurnaan fisiknya. Mungkin hal tersebut dilakukan mengingat banyaknya kecaman dari feminis serta pemerhati body positivity image. Tapi bisa jadi gebrakan ini dikarenakan Mattel ingin meningkatkan keuntungan perusahaan. Mengingat kurang lebih 1 tahun yang lalu, Mattel sempat mengalami penurunan keuntungan hingga 60% yang menyebabkan dipecatnya Bryan Stockton dari jabatan CEO Mattel.

Apapun alasannya, ide Body Postivity dari Barbie ini menurut saya patut diacungi jempol. Mattel berani mengubah sudut pandangnya menjadi lebih modern. Bahwa cantik itu tidak harus kurus, tinggi dan berwajah menawan. Cantik itu beragam. Well, tapi saya sebagai muslim, kalau bisa saya memberi pendapat, mungkin Barbie dengan jilbab akan menjadi daya tarik tersendiri? 😉

Dan terakhir, menurut saya semua perempuan cantik dengan keunikannya masing-masing. Perfect is perfectly boring.


Gambar : http://www.marketwatch.com/story/barbies-evolution-from-gold-digger-to-political-correctness-2016-01-29

 

Comments

  1. shiq4 says:

    Nggak pernah dengar isu apapun berkaitan dengan barbie. Yang saya tahu adik saya senang main boneka saja ha ha ha….
    Ternyata si barbie punya banyak kritik ya.

    1. deantari says:

      banyak mas, terutama dari kaum feminis. kebanyakan protes nya karena badan barbie yang terlampau sempurna,hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *