Cinta Negeriku : “Kami bukan blasteran Dewi dan Si Bodoh!”

83sarinah

Tidaklah ia “kaum lemah”
Tidaklah ia “kaum bodoh”
Tidaklah ia “penakut”
Tidaklah ia “kaum singkat pikiran”
Tidaklah ia makhluk yang selamanya harus dijagai dan dan ditolong sebagai blasteran “si dewi dan si tolol”
Wanita harus berjuang,tidak sendiri, namun beriringan dengan laki-laki.wanita harus jadi roda hebat dalam revolusi nasional!

Kalimat diatas merupakan kutipan dari Ir. Soekarno, dalam bukunya yang berjudul Sarinah. Buku tersebut membahas seluk beluk sejarah ketertindasan kaum wanita, serta pergolakan kaum wanita sehingga munculnya paham feminisme. Soekarno sendiri sebagai penganut sosialisme dan nasionalis sejati, kurang menyetujui paham feminis yang muncul di Eropa pada pertengahan abad 19. Menurut beliau, industrialisme yang saat itu mulai mempekerjakan wanita, malah mendudukan wanita pada posisi yang kurang dihormati. Wanita bekerja dengan porsi waktu yang tidak manusiawi, diperbudak, dan mengabaikan keluarga serta kodratnya sebagai wanita. Ia lebih menyukai keseimbangan – antara pria dan wanita memajukan kondisi sosial, memajukan bangsa dengan cakap, serta berperan aktif menumpahkan segala pemikiran-pemikirannya untuk menentukan nasib bangsa.

Di dalam buku ini, yang ia tulis pada tahun 1947, menyebutkan, bahwa perempuan “berevolusi”. Dari yang awalnya sigap dan sehat, dari yang mulanya ia sanggup menjadi pemimpin, menjadi jiwa yang ringkih dan “nerimo” pada saat ia di peristri oleh seorang laki-laki. Nasibnya kini sudah berada pada tangan sang suami, karena suami merupakan sang pencari nafkah. Maka pemikiran wanita tersebut bergeser, perkawinan dan perjodohan, dengan orang besar, berkuasa penuh adidaya dan kekayaan, yang mereka pikir menjadi satu-satunya penolong nasib mereka.

Bukan lagi kepribadian yang mereka tonjolkan, melainkan “sex appeal” yang mereka miliki. Kecantikan dibangga-banggakan antara wanita yang satu dan yang lain. Kecantikan luar mulai menjadi faktor ekonomi. Laki-laki yang harus memenuhi kebutuhan lahiriahnya sebagai seorang “pria”, pada umumnya akan lebih memilih wanita dengan kecantikan dan sifat lebih “nrimo”.

Masih ingatkah anda dengan tulisan saya diatas, kalau buku ini ditulis oleh Ir. Soekarno pada tahun 1947? Bergeserkah stigma tersebut di tahun 2016 ini? Tergantung dari kacamata siapa anda melihat. Dari latar belakang sosial dan ekonomi mana hal ini dipandang.

Beberapa waktu yang lalu saat saya sedang berdiskusi dengan seorang teman, kami sempat berdiskusi tentang banyak hal, terutama untuk rencana kedepannya nanti. Saya sempat meminta pendapat apakah lebih baik saya harus memilih melanjutkan kuliah S2 di UGM atau UI. Namun jawaban yang saya dapat bukanlah keduanya. Ia berkata “ngapain kamu sekolah tinggi-tinggi lagi?nanti susah dapet jodohnya, laki-laki jadi jiper nanti, karena merasa tidak sepadan. Tinggal ikut suami aja lah nantinya, ga perlu susah-susah”.

Saya tersentak.

Apakah salah, saya mengejar pendidikan lebih tinggi lagi? Apakah kami para perempuan, harus meninggalkan impian dan harapan kami?

Tidak, kalau kamu pikir kami akan meninggalkan keluarga demi kepentingan pribadi semata, itu salah besar. Kami akan berusaha untuk sanggup berkarir dan menghasilkan keluarga yang berkualitas. layaknya Khadija binti Khuwaylid.

Tapi coba renungkan. Mari kita berandai. Jika semua wanita di Indonesia ini selalu mengandalkan kecantikan fisiknya sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan nasib yang lebih baik dari suaminya, akankah menghasilkan keluarga dan penerus bangsa yang berkualitas?

Akankah kita maju?

Ah, semoga ini hanya renungan dan omong kosong saya semata. Semoga selalu ada Srikandi yang cantik, pintar, serta gagah berani disetiap keluarga di negeri ini, yang membimbing anak-anaknya menjadi penerus bangsa yang lebih baik. Semoga.


 

Buku : Soekarno, 1947 (dicetak ulang pada 2014). Sarinah. Jogjakarta.

 

Comments

  1. Ini semacam komplemen tulisanku sebelumnya (mungkin). Setuju banget dengan pointnya, perempuan sekarang sudah seharusnya menyeimbangi kaum laki2, tidak sekedar mengandalkan kecantikannya saja. Karena perempuan baik untuk laki2 yang baik pula.

    Btw, udah nonton film the intern? bagaimana pendapatmu bila yang terjadi hal seperti itu?

    1. deantari says:

      Intinya sebenernya simpel. Cantik itu bisa hilang seiring waktu, dan semua wanita menurut saya cantik. Tapi yang ilmu dan imannya terus ditambah, she’s the real treasure Jangan cuma beli kosmetik harga 500ribu mau, tapi beli buku harga 50ribu untuk menambah ilmu aja gak mau. hehe
      Whoops… belum mas, sedang di download. Aku tonton malam ini. I’ll tell you later yaaa

    2. deantari says:

      Well kalau bukan karena mas, aku ga tau ada film sebagus ini, Ben is really inspiring 😀 I have to said, it was really pleasurable to watch. Oiya mengenai Jules dan Matt. Aku rasa permasalahan muncul ketika semua terasa tidak seimbang sesuai kodratnya,di kedua belah pihak. Jules yang berkarir terlalu tinggi sehingga mengabaikan keluarganya dan Matt yang terlalu menjadi “stay at home dad”. Yah tapi bagaimanapun juga, hati yang mendua dikarenakan alasan “pasangan yang terlalu sibuk” menurutku adalah salah besar. No compromised for that.
      And when something wasn’t balanced, you know someday you will lose that thing.
      Menurutku sih, yang terlalu berlebihan itu tidak baik.

      Kalau menurut Mas Parmanto bagaimana?

      1. In general, the movie is quite awesome, but that’s not my point. Yang aku maksud adalah ketika peran saumi-isteri yang justru tertukar. Ketika suami justru jadi ‘full housewife’, sementara sang isteri keluar mencari nafkah. Padahal, diawal pernikahan karir Matt lbh cemerlang ketimbang si Jules. Nah disinilah, kok saya merasa kurang terima … hehe. Nah, km sbg perempuan gmn? 😀

        1. deantari says:

          yah mas, saya yg org muslim ya pasti merasa janggal to… karena sudah ada ketentuan dalam Al Qur’an kalau suami adalah pemimpin dan pemberi nafkah. itu mutlak menurut saya. Suami ya tetap pemberi nafkah utama di keluarga.Istri itu bisa berkarir jika ia tetap melaksanakan kewajibannya. ya apalagi selain mengurus keluarganya sendiri.

  2. shiq4 says:

    Wah saya baru tahu klo pak karno pernah menerbitkan buku.

    1. deantari says:

      Iya mas, Sarinah adalah buku yang ditulis oleh Ir Soekarno tahun 1947, yang diterbitkan pada tahun 1951. Isinya sebagai penyemangat wanita untuk lebih maju dan revolusioner 🙂

  3. Yah, pada dasarnya perempuan yang berpendidikan itu jauh lebih baik kan ya? nanti juga keturunannya InsyaAllah juga baik :))

    1. deantari says:

      Memang benar mas, tapi menurut saya gak 100% benar. Ibu yang pendidikannya tinggi dan akhlaknya juga tinggi, baru itu yang Insha Allah keturunannya luar biasa, dan pasti hal tersebut ikut membantu kemajuan bangsa kita secara langsung. yaitu ikut membentuk SDM yang berkualitas 🙂

      1. Nah, benar :)) akhlak tetap menjadi elemen yang sangat penting :))

  4. Berkarier dan menghasilkan keluarga yg berkualitas itu cita2 nya
    semoga para perempuan indonesia menyadari itu

    1. deantari says:

      Tepat sekali mas, semoga saja. Btw, terimakasih sudah bersedia mampir, such an honor for me 🙂

  5. imambasz says:

    Pendidikan perempuan nanti akan bermanfaat untuk anak-anaknya…bagaimanapun perempuan tdk mslh untuk menimba ilmu bahkan saat mnjdi istri, asalkan awalny sdh ada komitmen dan kesepakatan antara suami dan istri apabila istri stlh menikah msh ingin menempuh studi 🙂
    Tulisan ini membukakan hati dan mataku akan seorang perempuan mungkn istriku nanti memiliki semangat belajar yg tinggi so…sbgi seorg laki-laki hrs lebih semangat lagi 🙂

    1. deantari says:

      Wah setuju sekali. semangat mas, semoga jadi yg terbaik untuk dapat istri yg terbaik juga! 🙂

  6. jokoprastiyo says:

    Selalu bersyukur kalo masih ada perempuan-perempuan yang mau memperdalam literatur sejarah, khususnya nasional. Selain minat baca, selera bacaan juga jadi faktor yang membentuk kecerdasan intelektual seseorang. Saya lebih bersyukur dan senang kalo lihat perempuan baca buku Sarinah dibanding sajak-sajak cinta Sapardi 🙂

    1. terimakasih mas.tapi saya ga selalu baca literatur sejarah kok. sajak cinta sapardi juga saya lahap.terutama buku2 pak ahmad tohari 🙂

      1. jokoprastiyo says:

        Kalo Sapardi, saya malah lagi baca kumpulan esainya yang “Tirani Demokrasi”. High recomended tuh, jarang2 beliau bicara soal sejarah, khususnya politik. Ahmad Tohari mah favorit ogut hehe. Di jaman Orde Baru, saking beraninya nge-ekspos kehidupan akar rumput, beliau dituduh banyak orang (dituduh komunis), dan akhirnya “diselamatin” Gus Dur dan NU.

  7. […] Cinta Negeriku : “Kami bukan blasteran Dewi dan Si Bodoh!” […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *