Men-Jawa-kan Perempuan Jawa

kartini

Sebagai seorang perempuan Jawa, yang lahir dari orangtua Jawa tulen, saya akui saya tidak terlalu menyukai adat yang terlalu “kaku” dari mulai cara berperilaku hingga berpakaian yang biasanya dilakukan pada acara adat – terutama pernikahan. Saya bahkan berencana ingin menikah tanpa embel-embel acara adat (tenang masih rencana, lah wong pasangannya masih disimpan Tuhan kok! :’) ) Dulu, saya anggap semua itu terlalu kuno, dimana arus modernisasi dari negara-negara Barat mulai bermunculan disini. Begitu banyaknya informasi yang diterima, mulai dari perkembangan teknologi, cara berpakaian, musik genre baru, kultur yang berbeda, membuat saya lupa akan adat istiadat serta jati diri saya – sebagai Perempuan Jawa.

Waktu berlalu hingga suatu hari saya ke sebuah toko buku, dan iseng membaca buku Babad Tanah Jawi oleh WL Olthof pada tumpukan buku sejarah. Tanpa pikir panjang saya kemudian membeli buku tersebut. Buku itu tidak terlalu banyak menyuratkan sesuatu, hampir sebagian besar pesan yang disampaikan pada setiap cerita-cerita kerajaan Jawa tersebut disampaikan secara tersirat. Sebenarnya beberapa naskah didalam Babad Tanah Jawi ini masih kontroversi hingga sekarang dan diragukan kebenaran ceritanya. Namun banyak intisari yang bisa kita ambil dari cerita-cerita ini. Dari beberapa cerita dalam Babad Tanah Jawi tidak sedikit cerita yang memojokkan posisi wanita Jawa pada jaman tersebut. Tapi terdapat juga beberapa karakter perempuan hebat antara lain pantang menyerah, tangguh, setia, berkuasa dan juga rendah hati. Ambil contoh Ratu Kalinyamat. Sosok bupati Jepara di tahun 1500-an ini dengan berani menyerang Portugis yang saat itu berkuasa di Malaka. Stereotype perempuan Jawa yang lemah tidak terdapat didalam dirinya. Ia tidak pantang menyerah, anggun dan kuat. Perpaduan sempurna untuk seorang wanita.

babad tanah jawi

picture from goodreads.com

Cerita di Babad Tanah Jawi mengandung berbagai makna hidup. Baik maupun buruk. Semua disampaikan secara TERSIRAT. Ada maksud dari setiap kata tembang jawa didalam buku tersebut. Begitu pula dalam kriteria perempuan didalam buku Serat Centhini, yang diketahui terbagi menjadi 3, antara lain :

1. Wedi (takut)

Tidak bertengkar serta mencela suami, menurut kepada suami. Dalam hal ini untuk taat terhadap perintah suami yang benar.

2. Gemi (berhemat)

Pandai mengatur keuangan dalam keluarga, selalu bersyukur berapapun penghasilan dari suaminya serta dapat mengelola keuangan dengan tidak menghambur-hamburkannya.

3. Gemati (penuh kasih)

Penuh kasih sayang dalam pemenuhan kebutuhan suami serta keluarga, berkaitan dengan Masak, Macak dan Manak. Masak yang berarti seorang wanita harus pintar menyediakan makanan yang bernutrisi untuk keluarga, Macak yaitu dapat berhias/ bersolek (kecantikan luar dan dalam) mempunyai kepribadian yang baik dan juga nilai moralitas yang tinggi, serta yang terakhir adalah Manak yaitu dapat menghasilkan keturunan yang baik.


Terdapat kalimat dalam Serat Centhini pada tembang kinanthi sebagai berikut:

“Tan kurang tuladan luhung, anggon-anggoning pawestri. Janji temen linampahan, ingkang wus kasebut tulis, tanggung kang padha iyasa, yen nganti tumekeng nisthip.”

Nanging kudu wruh panuju, watek kabeneran Nini, ywa nganggo bener kewala. Iku angeling dumadi, empan papan duga-duga, tangi turu away lali.”

Terjemahan:

Beragam suri tauladan yang utama, yang menjadi pedoman para wanita. Asal benar-benar dipatuhi, segala yang tertulis dalam ajaran para penciptanya, tidaklah mungkin akan menemui cela.

– Akan tetapi harus pula mengerti apa yang menjadi tujuanmu, ialah menyenangkan hati sesamamu. Pantaslah berpegang pada kebenaran, tetapi jangan ingin benar sendiri. Memang sulit, harus tahu keadaan masyarakat, Bangun tidur, itulah yang harus diperhatikan.”

Jadi inti dari kecantikan perempuan yang seutuhnya adalah kecantikan dari dalam, yang terpancar dari kepribadian perempuan tersebut. Dimana ia dapat menempatkan diri dalam masyarakat serta berbuat baik kepada sesama.

Mengikuti adat dan istiadat bukan berarti kita harus memakai pakaian ataupun tingkah laku yang menyerupai adat tersebut disaat terdahulu. Namun mengikuti kepribadian positif yang telah disampaikan leluhur kita dari jaman dulu. Yuk sama-sama memperbaiki diri untuk menjadi “Perempuan Jawa” yang seutuhnya!



foto kartini bersaudara : wikipedia.org

sumber                      : Babad Tanah Jawi, WL Olthof

                                  Serat Centhini

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *